Para pemimpin dari tujuh negara
maju di dunia bertemu pada KTT G7 tahun ini di Pegunungan Alpen Bavaria Jerman
untuk membahas masalah paling mendesak di dunia. Ketua G7 juga mengundang para pemimpin negara lain seperti
Argentina, India, Indonesia, Senegal, dan Afrika Selatan. Jokowi akan mengikuti agenda KTT G7
pada Senin (27/6/2022)
Acara
yang digelar pada 26-28 Juni 2022 ini membahas masalah invasi Rusia ke Ukraina,
krisis ekonomi global yang memburuk akibat perang, pemerataan vaksin, dan
darurat iklim.
Kanselir
Jerman Olaf Scholz, yang merupakan ketua G7 tahun ini, sebelumnya menyinggung
soal Ukraina dalam KTT Solusi Global di Berlin pada Maret lalu.
Ia
mengatakan bahwa perang di Ukraina tidak boleh membuat mereka sebagai anggota
G7 mengabaikan tanggung jawab lain untuk tantangan global seperti krisis iklim
atau pandemi.
Seperti
diketahui, G7 terdiri dari tujuh negara maju di dunia, yang bertemu setiap
tahun untuk membahas masalah keamanan, ekonomi, dan iklim global.
Tahun
ini, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Kanselir Jerman Olaf Scholz,
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Presiden Prancis Emmanuel Macron,
Perdana Menteri Italia Mario Draghi, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, dan
Presiden AS Joe Biden hadir.
Presiden
UE Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel juga hadir
seperti biasanya.
Rusia
sempat bergabung dengan grup ini pada tahun 1998. Nama G7 pun diubah menjadi
G8. Namun Rusia kemudian dikeluarkan sejak 2014 setelah pencaplokan Krimea.
G7,
seperti yang sekarang dikenal, pertama kali dibentuk setelah krisis minyak
tahun 1973. Krisis itu telah menyebabkan resesi yang dalam dan peningkatan
inflasi.
Perancis,
Italia, Jepang, Inggris, AS, dan Jerman Barat membentuk Kelompok Enam awal pada
tahun 1975 untuk membahas masalah ekonomi berikutnya. Kanada bergabung dengan
grup pada tahun 1976.
Topik
Apa yang Dibahas?
Terlepas
dari komentar Scholz bahwa perang di Ukraina tidak boleh membuat para pemimpin
G7 mengabaikan prioritas global lainnya, masalah Ukraina diperkirakan akan mendominasi
KTT tiga hari tersebut.
"Ada
premi nyata dalam menyampaikan persatuan dan tanggapan yang kredibel karena
perang ini tidak akan berumur pendek," kata Michael Hanna, direktur
program AS di International Crisis Group.
KTT
tahun ini bisa menjadi sangat penting untuk menyusun respons ekonomi global
yang berdampak, tambahnya.
Fokus
utama kemungkinan akan mencakup penanganan guncangan ekonomi buntut dari invasi
Rusia ke Ukraina dan sanksi Barat berikutnya.
"(Rusia)
pantas disalahkan, tetapi tidak diragukan lagi bahwa tanggapan dan sanksi Barat
memainkan peran,"kata Hanna, merujuk pada keadaan ekonomi global.
"Ini
terjadi di atas jenis tekanan inflasi dan guncangan ekonomi yang kita lihat
selama pandemi."
Efek
perang pada distribusi makanan dapat sangat mengerikan. Ukraina adalah salah
satu pemasok utama biji-bijian dan minyak sayur dunia. Invasi Rusia telah
mengganggu produksi reguler dan berkontribusi pada meroketnya harga pangan
dunia.
G7
telah meminta semua negara untuk menjaga pasar pangan dan pertanian mereka
tetap terbuka. Pertanyaan tentang produksi, distribusi dan pasokan pangan, dan
bantuan untuk negara-negara yang terkena dampak parah dapat menjadi poin
diskusi.
"Banyak
dari tantangan yang kita hadapi secara global ini adalah tantangan buatan manusia,"
kata Bibbins Sedaca.
Sedaca
memperingatkan agar tidak hanya berfokus pada krisis pangan atau pengungsi
tanpa mengatasi akar masalahnya.
"Ketika
akar masalahnya adalah otoritarianisme, kita perlu menyelesaikannya daripada
hanya berfokus pada hasil."
G7
juga menegaskan kembali menjelang KTT tentang perlunya bekerja untuk mencapai
tujuan Organisasi Kesehatan Dunia untuk memvaksinasi 70 persen populasi dunia
terhadap virus corona pada pertengahan 2022.
Untuk
melakukan itu, dibutuhkan percepatan substansial dari kampanye vaksinasi
global, menurut sebuah pernyataan di situs resmi G7.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar